Sinetron Indonesia; ‘menyampahkan’ K-Drama

Sinetron adalah sarana hiburan yang dapat dinikmati oleh semua kalangan masyarakat Indonesia, tidak terbatas umur, profesi dan status social. Sinetron-sinetron ini bisa kita jumpai dari pagi, siang, hingga malam di berbagai stasiun televisi kita. Hal ini wajar saja, selama sinetron memberikan pesan positif kepada penontonnya. Namun nyatanya, isi dari sekian banyak sinetron Indonesia adalah sampah sehingga tidak mendidik. Ditambah lagi plagiarism yang marak dilakukan para PH tanpa malu-malu.
Fenomena menjamurnya sinetron ini tidak seratus persen ditolak oleh masyarakat, terbukti dengan cukup banyaknya judul sinetron yang memiliki rating yang tinggi. Namun tentu saja, sebagian besar penontonnya bukanlah dari kalangan terpelajar, namun rata-rata adalah ibu rumah tangga yang memilih mengahabiskan waktunya di depan televisi. Sebut saja sinetron ‘Cinta Fitri’ yang terkenal dengan seasonnya yang panjang, sinetron ‘S ekar’ yang tiada episode tanpa adegan menangis dan sinetron ‘Kejora dan Bintang’ yang mengalami plot berulang-ulang, memiliki rating yang tinggi.
Namun siapa sangka, ketiga sinetron di atas bukan merupakan ide orisinil PH Indonesia sendiri. Sinetron ‘Cinta Fitri’ merupakan jiplakan dari drama serial Korea (K-Drama) berjudul ‘Pure in Heart’, sinetron ‘Sekar’ menjiplak K-drama berjudul ‘Golden Bride’ sedangkan ‘Kejora dan Bintang’ menjiplak k-drama berjudul Shining Inheritance/Brilliant Legacy. Membuat cerita/sinetron yang sama dengan drama lain memang hal biasa, namun jika dilakukan tanpa izin (illegal) itu merupakan tindakan criminal.
Bagi k-drama lovers, melihat banyak sinetron Indonesia yang meniru k-drama seharusnya merupakan hal bagus. Karena dengan begitu mereka bisa menonton lagi drama kesukaannya, namun bedanya kali ini diperankan oleh artis-artis Indonesia sendiri. Namun hal ini rasanya sulit terjadi, karena nyatanya hasil jiplakan sinetron-sinetron kita jauh lebih buruk dari drama aslinya. Sehingga sinetron Indonesia terkesan ‘menyampahkan’ k-drama. Drama yang sebenarnya bagus, menjadi kampungan setelah dijiplak. Banyak factor yang menyebabkan sinetron Indonesia memiliki mutu yang rendah, antara lain; 1) Akting para pemainnya tidak natural, terkesan dibuat-dibuat. Di drama yang asli para pemerannya jarang memakai airmata buatan untuk adegan menangis, sedangkan artis Indonesia tak jarang yang masih memerlukan bantuan airmata buatan untuk adegan menangis. 2) Realistis, dalam k-drama pemerannya lebih sering memakai make-up natural. Berbeda dengan sinetron Indonesia, yang bahkan para artisnya masih memakai make-up saat tidur. 3) materialistis, PH Indonesia begitu tergiur dengan rating. Jika sinetron dirasa memiliki rating yang tinggi, maka tidak segan-segan PH menambah jumlah episode dengan cara mengulang-ngulang plot. Rata-rata drama Korea memiliki 15-25 episode, sedangkan di Indonesia, dengan drama yang sama episodenya bisa mencapai 100 lebih. Hal ini membuat masyarakat—khususnya remaja merasa bosan. Jumlah episode ‘Cinta Fitri’ sampai sekarang adalah 777 episode, ‘Sekar’ berjumlah 149 episode, dan sinetron ‘Kejora dan Bintang’ berjumlah 74 episode. 4) visualisasi yang rendah. banyak efek yang tanggung atau malah berlebihan di dalam sinetron Indonesia, berbeda dengan k-drama yang simple. Sutradara Indonesia sepertinya mengalami kecenderungan meng-zoom wajah actor/aktrisnya di saat-saat tegang dengan waktu yang relative lama, ditambah efek suara yang berlebihan.
Demikian banyaknya kekurangan dari hasil jiplakan sinetron Indonesia membuat banyak masyarakat terutama remaja yang menyukai k-drama gerah. Banyak postingan di internet yang menghina sinetron-sinetron Indonesia, di kaskus, blog, facebook, dan forum-forum social lainnya. Namun PH tidak bergeming, karena masih ada ibu-ibu rumah tangga yang setia menonton dan bahkan menjadikannya tontonan wajib.
Meski begitu, Production House (PH) sinetron Indonesia harus memperbaiki citra sinetron yang terlanjur buruk dimata remaja. Hendaknya mereka mulai membuat sinetron dengan ide sendiri, yang tidak menitikberatkan pada kuantitas episode, tetapi juga kualitas cerita, pemain dan visualisasinya. Persepsi ‘semakin tinggi rating, semakin banyak episode’ hendaknya dibuang. Selain itu, coba buat sinetron dengan ide orisinil yang segar dan didukung oleh karakter-karakter pemain yang unik. Saya yakin, sinetron Indonesia pun bisa membuat drama yang bagus dan berkualitas, atau paling tidak, tidak lagi menyampahkan k-drama.

0 comments:



Posting Komentar